Minggu, 25 Desember 2016



Mengarahkan Anak Kita Menjadi Cerdas
                                                          Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI
Berdasarkan Koran Tribun Corner yang dimuat di halaman 2 pada hari Rabu,21 Desember 2016 tulisan dari Ahmad Ubaidillah yang berpendapat bahwa kalau manusia itu cerdas,bisa dipastikan ia akan menjadi orang sukses dikemudian hari. Masa depannya cerah. Memang benar adanya pada zaman sekarang manusia cerdas itu dinilai dari tingkat pendidikannya dan keprofesionalannya. Manusia yang cerdas hanya dikaitkan dengan manusia yang ahli pada bidang tertentu.
Saya sependapat pada gagasan tersebut. Siapa sih yang tidak ingin menjadi anak yang cerdas? Orang tua mana yang tidak menginginkan anak-anaknya  cerdas? Pendidik mana yang tidak mengharapkan anak didiknya menjadi cerdas? Tentu bangga menjadi anak yang cerdas, dan setiap orang ingin menjadi cerdas. Orang tua yang mengajari kita dari kecil hingga sekarang dan menyekolahkan kita pun karena hanya ingin anaknya menjadi cerdas. Guru-guru disekolah membimbing dan memberikan ilmunya juga menginginkan anak didiknya menjadi cerdas dan semua itu dilakukan agar kelak dimasa depan dapat meraih kesuksesan.
Cerdas itu memiliki banyak macam dan tergantung kriterianya. Ada orang yang cerdas dalam bidang pendidkan,berpolitik,ekonomi dan lain sebagainya. Adapula orang yang cerdas emosionalnya dan cerdas dalam menyelesaikan persoalan atau suatu masalah tertentu. Misalnya dalam hal pendidikan ketika kenakalan remaja dapat ditanggulangi oleh ahli pendidikan atau dalam hal pemerintahan ketika pemerintah dapat menyelesaikan persoalan ekonomi pada suatu daerah seperti saat kenaikan harga sembako. Contoh-contoh tersebut dapat pula disebut manusia cerdas.
Sebenarnya sejak zaman Nabi Muhammad SAW ternyata sudah banyak hadits yang menjelaskan tentang kriteria orang yang cerdas menurut Rasulullah. Menurut Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, berkata bahwa “suatu ketika saya pernah bersama Rasullulah,lalu datanglah seorang laki-laki dari kamu anshar. Dia mengucapkan salam kepada Nabi SAW lalu bertanya, ” wahai Rasulullah, Muslim manakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab “Yaitu yang paling baik akhlaknya”. Dia bertanya lagi, “ Lalu Muslim manakah yang paling cerdas?” Rasulullah menjawab “ Yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak persiapannya untuk kehidupan yang berikutnya ( setelah kematian). Mereka itulah orang-orang yang cerdas”. (HR. Ibnu Majah).
Adapula definisi cerdas menurut hadis yang lain. Hadis yang diriwayatkan oleh beberapa perawi hadis. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ath-Thabrani dan Imam Ibnu Majah. “ Dari Nabi SAW, beliau bersabda : “orang yang cerdas adalah orang yang menghitung (menghisab)ndirinya dan beramal untuk masa stelah mati. Orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT”, (HR. Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ath-Thabrani dan Imam Ibnu Majah).            Dari penjelasan Rasullulah SAW ternyata adalah orang yang cerdas bukanlah orang yang pandai dalam berhitung,berbahasa,menciptakan suatu hal atau ahli pada suatu bidang. Namun, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling baik dalam mempersiapkan kematian. Kecerdasan seseorang tidak hanya dapat terlihat dari intelektualnya dibidang akademis saja namun juga dengan akhlak dan kepercayaan yang baik kepada Tuhan. Oloeh karena itu alangkah baiknya apabila kita menjadi orang yang cerdas dalam akademik dan rohani agar insyaallah menjadi orang yang cerdas dalam dunia dan juga akhirat.


TANGGAPAN DRAMA JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH
BERDASARKAN  ESSAI YANG DITULIS
 OLEH TIRANI WIDYA SAPITRY
                                                  
Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI
Jaka Tarub
Saya sependapat dengan artikel yang dituliskan oleh Tirani Widya Sapitry bahwa Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang pada zaman dahulu kala sangat mendambakan memiliki istri seperti seorang bidadari yang cantik jelita. Suatu hari disaat petang menjelang bulan purnama tiba ada tujuh bidadari yang turun dari kayangan menuju ke sebuah telaga yang terdapat ditengah hutan yang masih asri, saat itu Jaka Tarub sedang berburu burung yang bersenjatakan kayu. Melihat sekumpulan bidadari-bidadari yang sangat cantik tadi Jaka Tarub berniat untuk mengambil salah satu selendang yang para bidadari tinggalkan di batu besar. Setelah berhasil mencuri sebuah selendang, Jaka Tarub mengumpat dibalik semak. Tak lama kemudian bidadari-bidadari tadi memakai selendang mereka karena akan segera kembali ke khayangan. Ketika semuanya sudah mengenakan selendang masing-masing, ada seorang bidadari yang tak menemukan selendang miliknya. Bidadari tersebut bernama Nawang Wulan.  Nawang wulan tidak dapat kembali ke khayangan sehingga ia berada di telaga sendirian dengan hati yang sangat bersedih. Lalu Nawang Wulan pun mengucapkan janji bila selendang miliknya diketemukan oleh seorang perempuan maka akan dijadikannya saudara jika ditemukan oleh laki-laki maka akan dijadikannya suami. Mendengar hal itu Jaka Tarub pulang kerumah dan mengambilkan baju milik ibunya dan memberikan baju itu ke Nawang Wulan. Jka Tarub merasa tidak percaya karena dia telah dijadikan Nawang Wulan suami kemudian mereka pun pulang ke rumah Jaka Tarub. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya, Tak lama setelah mereka berumah tangga merekapun dikaruniani seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Suatu pagi Nawang Wulan berpamitan untuk pergi ke telaga untuk mandi, ia berpesan kepada suaminya untuk tidak membuka kukusan nasi yang dimasaknya. Jaka Tarub heran kenapa padi di lumbungnya tak kunjung habis. Ia lupa akan pesan istrinya dan dibukanya kukusan tadi. Ia sangat kaget karena istrinya hanya memasak seikat padi. Setibanya nawang wulan dirumah ia sangat marah dan terbongkarlah kebohongan Jaka Tarub, Nawang wulan juga telah menemukan selendannya lalu ia meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsi tanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu, dan Nawangsih dapat bertemu dengan Nawang Wulan ketika bulan purnama tiba dengan syarat menemui sendirian diluar rumah tanpa ditemani Jaka Tarub. Oleh sebab itu Jaka Tarub selalu berada dan tidur diluar rumah ketika bulan purnama tiba.

BALADA SUMARAH
Balada Sumarah menceritakan tentang kisah seseorang yang bernama Sumarah yang dikucilkan dilingkungan dimana ia tinggal karena bapaknya diduga adalah seorang PKI. Sampai pada akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke Arab untuk menjadi TKW agar ia tak lagi mendengar cemooh an tersebut. Ketika sekolah di bangku SMA Sumarah adalah lulusan dengan nilai terbaik. Namun sayang, nasib baik dalam pekerjaan tak berpihak kepadanya. Ia bekerja di Arab sebagai seorang babu yang bernasib buruk. Ia selalu disiksa oleh majikannya bahkan sampai tak digaji selama setahun hingga diperkosa oleh majikannya sendiri. Sampai pada akhirnya kesabarannya pun habis dan dia membunuh majikanya tersebut dan hukum arab pun terjadi kepadanya. Karena menurut hukum disana adalah nyawa dibalas dengan nyawa dan pemerintahan Indonesia pun tak membelanya. Lalu pada akhirnya dia pun dihukum mati oleh pemerintahan negara di Arab..



Peringatan Sumpah Pemuda di Bulan Bahasa

Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI
Acara Puncak dalam memperingati Bulan Bahasa di Universitas PGRI Semarang yang diselenggarakan di Balaiung pada Kamis,27 Oktober 2016 berlangsung sangat apik dan meriah. Bulan bahasa adalah acara tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Semarang guna memperingati Hari Sumpah Pemuda. Ketika Bulan bahasa diadakan Rektor beserta jajarannya dan seluruh mahasiswa fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni(FPBS) mengenakan pakaian adat nusantara.
Beda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya diadakan kirab budaya menyusuri jalanan Dr. Cipto, Mt.Hariyono, Jalan RA.Kartini hingga kembali ke kampus tercinta. Tahun ini Bulan Bahasa Universitas PGRI Semarang tampil dengan  konsep yang berbeda yaitu dengan mengadakan Lomba Tari Kreasi. Tata panggung yang telah tersuguhkan menampilkan hasil kerja keras mahasiswa fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS).
Dalam acara tersebut diadakan lomba pentas seni tari kreasi yang diikuti oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Bahasa Inggris(PBI) dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD). Terdapat 28 nomer undi peseta yang ditampilkan. Lomba ini diikuti oleh mahasiswa mulai dari semester 1 sampai semester atas. Lomba tari kreasi yang ditampilkan sangat beragam. Tari-tari yang di bawakan mulai dari tarian tradisional yang ada di nusatara hingga modern. Lagu yang mengiringipun diambil dari lagu daerah seperti tabuhan tembang jawa, papua,aceh dan sebagainya serta iringan musik modern international top hits dari berbagai negara seperti Amerika,Inggris hingga K-pop atau lagu dari Korea.
Bukan hanya itu saja, menariknya di bulan bahasa pada tahun ini Balairung Universitas PGRI Semarang juga digetarkan oleh suguhan paduan suara mahasiswa dari Universitas PGRI Semarang sambil diiringi pembacaan teks Sumpah Pemuda yang dibacakan oleh beberapa umat pemeluk beragama yang berbeda-beda dan dari suku yang berbeda pula yang ada  di Indonesia. Indonesia adalah negara yang luas, dari hal yang telah disuguhkan kita jadi paham bahwa inilah hasil dari ideologi dan dasar negara kita yaitu Bhineka Tunggal Ika dan 5 bulir dari Pancasila. Sumpah Pemuda adalah tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.ikrak yang terkandung didalamnya adalah kristalisasi untuk semangat  guna menegakkan cita-cita bangsa. Berikut adalah bunyi dari Sumpah Pemuda.
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kedoea:
Kami petra dan poetri Indonesia mengakoe berbagsa jang satoe bahasa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dari ketiga bunyi sumpah pemudia berikut, dalam bulan bahasa ketiganya sama dijadikan point penting yang harus dikandung dalam Bulan Bahasa.
Terlepas dari suguhan yang sangat apik dan menggetarkan hati tadi, tak lama kemudia balairung juga guncangkan oleh penampilan-penampilan dari peserta lomba. Disana kita bisa melihat suguhan tari kreasi modern yang indah. Menurut saya suguhan yang paling memukau adalah penampilan dari peserta mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Daerah(PBSD) mereka menampilkan tidak hanya menampilkan sebuah tarian, namun juga kesenian jawa yaitu Reog. Sungguh penampilan yang sangat bagus. Dan memang benar, mereka pun meraih juara satu dalam lomba tersebut. Acara Bulan Bahasa tahun ini ditutup dengan flash mop yaang diikuti oleh dosen dan mahasiswa yang beramai-ramai menutup acara Bulan Bahasa dengan cara bergoyang bersama-sama. Acara yang sangat meriah dan luar biasa, semoga dalam kedepannya Universitas PGRI Semarang megkonsepkan acara dengan lebih baik lagi di tahun-tahun selanjutnya.
Acara dalam hal memperingati Hari Sumpah Pemuda tidak hanya itu, pada hari Jumat tanggal 28 oktober 2016 tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda diadakan acara di Gedung utama bagian tengah parkiran depan Dekanat. Acara ini diadakan oleh Unit Kegiatan Masiswa(UKM) teater GEMA. Dengan mengusing konsep sumpah pemuda pada pagi harinya mahasiswa berbondong-bondong menyampaikan orasi budaya dan pada acara puncak pada malam harinya tiap-tiap UKM di Universitas PGRI menampilkan perwakilan seperti pembacaan teks pidato da puisi. Acara yang terselenggarakan cukup menggetarkan jiwa karena ketika menyaksikan kita sedikit tahu arti sumpah pemuda yang sesungguhnya yaitu dengan menjadi pemuda yang berguna bagi bangsa dan menjunjung tinggi negara Indonesia tak lupa pula sikap mencintai tanah air karena pada dasarnya kita semua adalah calon-calon pemimpin negeri.



Suparto Brata
Manusia Sastrawi
                                            Oleh: Tri Rahayu/3D/15410232

Berdasarkan koran Tribun Corner yang dimuat di halaman 2 pada hari Sabtu, 4 Juni 2016 tulisan dari Ngadiyo yang berpendapat tentang takdir manusia yang tak dapat diubah adalah anggapan picisan. Manusia yang beranggapan demikian adalah cerminan dari manusia primitif yang tidak terpelajar. Manusia dan pengetahuan adalah sebuah kunci dari perubahan hidup seseorang. Sejauh ini masih kita temui tentang kurang begitu sadarnya manusia akan pentingnya dalam menimba ilmu pengetahuan padahal peradaban menunjukan kependidikan.
Menurut pengalaman saya dalam menempuh pendidikan sejak dari Taman kanak-kanak bangku Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga menduduki semester 3 di perguruan tinggi sejak awal saya memperoleh pembelajaran  di TK saya mendapatkan pembelajaran pertama saya dengan mengenal apa itu huruf, belajar dalam mengucapkannya,kemudian menuliskan hingga menyusunnya menjadi sebuah kata sesuai dengan jenjang pendidikannya. Saya diajar oleh guru untuk membaca dan menulis setiap hari, tak hanya itu pelajaran yang lain seperti berhitung,pengetahuan alam,sosial dan sebagainya juga diajarkan oleh guru disekolah. Namun itu saja belum cukup bila saya menerapkan hal membaca dan menulis hanya dilingkungan sekolah.
Dalam era globalisasi masa kini saya cukup perihatin melihat generasi muda jaman sekarang lebih suka menulis status di sosial media dan membaca postingan tidak penting. Tak  salah jika kita memanfaatkan teknologi yang telah ada. Namun jangan sampai kita melupakan dengan adanya buku. Kurang sadarnya akan pentingnya membaca bacaan dalam buku membuat negara Indonesia ketinggalan jauh dalam hal intelektual dengan negara-negara lain. Sangat memperihatinkan bukan? Kita sebagai masyarakat yang melek huruf dan mengaku sebagai kaum intelektual sangat malu jika mengetahui hal tersebut. Dalam hal ini kurikulum belum berjalan dengan baik, sistem pendidikan di Indonsia belum dapat menggetarkan hati anak didiknya untuk dapat mencintai buku.
Saya sebagai calon pendidik ingin mengubah pola berfikir siswa untuk lebih aktif dalam membaca buku. Hal ini suatu saat akan saya lakukan dan saya tanamkan kepada peserta didik saya dengan cara “10 menit segudang ilmu”. Maksud dari kata itu adalah dengan siswa membaca tulisan dalam waktu 10 menit entah itu buku cerita atau buku lainnya setidaknya siswa bisa terlatih dan dapat menyerap informasi dari apa yang dibacanya. Dampak membaca tulisan dapat dirasakan secara langsung. Dengan membaca,apa yang dibaca oleh si pembaca  dapat mengubah pola berfikir. Lewat tulisan manusia menjadi pemikir yang baik,berwawasan luas, berilmu dan hal ini dapat menjadikan manusia untuk hidup lebih baik lagi. Manusia tidak boleh hanya mengandalkan panca indra namun juga harus berilmu karna dengan berilmu kita semua dapat merubah nasib agar tidak tertindas, dan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.

Bedah Buku 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus 1 Pengarang



BEDAH BUKU TRIYANTO TRIWIKROMO
                                               
Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI

Universitas PGRI Semarang mengadakan acara Bedah Buku 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus 1 Pengarang pada tanggal Rabu 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Acaranya ini adalah acara tahunan yang diaadakan oleh pihak universitas dalam hal Bulan Bahasa. Bedah buku ini bertujuan untuk mengapresiasi perjalanan karya sastra oleh penulis yang bernama Triyanto Triwikromo dalam 30 tahun perjalanannya menjadi seorang penulis. Acara bedah buku yang diselenggarakan di Balairung Universitas PGRI Semarang  dibawakan oleh Dr. Harjito M.Hum dan ketiga buku karya Triyanto Triwikromo yang dibedah berjudul Bersepeda ke neraka, Takziah dan Selir Musim Panas. Ketiga buku tersebut akan dibedah oleh tiga pembaca dan tiga kritikus  antara lain Dr. Nur Hidayah, Bapak Seiyo dan Bapak Wiwid.
Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan Indonesia yang lahir di Salatiga, Jawa tengah pada 15 September 1964 dan saat ini beliau telah berusia 52 tahun. Di Usia yang mencapai setengah abad lebih ini beliau telah banyak menghasilkan karya sastra yang luar biasa. Bedah buku dalam acara ini mengulas habis isi buku karangan Triyanto Triwikromo.
Dulu sebelum beliau menjadi seperti yang sekarang ini yaitu adalah seorang penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis  pada tahun 1989 dan juga sastrawan yang sangat luar biasa,beliau adalah seorang penulis biasa yang setiap hari dalam hidupnya ia habiskan dalam berkarya lewat goresan pena diatas kertas. Dulu sebelum karyanya di terbitkan oleh Harian Kompas setiap waktu subuh tiba beliau selalu datang kerumah pak Prass dengan membawa karya tulisnya dan membiarkan tulisannya tadi berserakan di ruang tamu karna beliau ingin pak prass membaca tulisannya dan dapat mengoreksinya serta berharap tulisannya dapat diterbitkan.
 Triyanto Triwikromo adalah sosok penulis yang tidak pantang menyerah. Dia selalu berusaha menghasilkan karya-karya terbaiknya.  Perjalanan karir Triyano Triwikromo dalam mengasah kemampuan menulisnya adalah dengan mengibaratkan dirinya sebagai seorang petinju yang harus berlatih setiap harinya. beliau dapat menghasilkan karya-karya seperti sekarang ini juga karena membaca. Dengan membaca maka suatu saat akan tergerak oleh apa yang pernah dibaca.
Bersepeda ke Neraka adalah fiksi mini Triyanto Triwikromo yang dibebaskan dan membebaskan,meluapkan,melampiaskan dirinya melipah secara tidak disangka-sangka,tak pernah rampung,sulit,rumit,sunyi,sepi,diam,bergerak,berkembang,mengungcup,berisik,tertangkap lalu lepas dan tak pernah rampung untuk terbedah.-ujar Dr. Nur Hidayah,pembaca dan kritikus.
Cerita fiksi mini pada buku yang berjudul Takziah terlihat seperti syair-syair mbeling yang dirindukan. Berisikan hal yang sangat menyenangkan seperti sedang berarung jeram didalamnya. –ujar Bapak Seiyo, pembaca dan kritikus.
Selir musim panas adalah buku yang berisikan tentang lirik-lirik yang perih yang menggambarkan intrik pada masa sebelumnya dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok teks-teks ini juga menunjukansisi lain Mao,Tiananmen,Puyi , kegairahan selir-selir mnghadapi hidup dan kemtian,serta pencarian jati diri kemanusiaan. Butuh empat buku tebal yang harus dibaca dalam membedah buku ini, itupun tak terbedah secara habis-habisan karena isinya yang dapat membingungkan si pembaca. – Ujar Bapak Wiwid,pembaca dan kritikus.
Menulis adalah pekerjaan besar yang sangat dicintai beliau dan dengan menulis hasil karya beliau akan menjadi suatu nilai, entah menulis dalam hal apapun seperti menulis berita ataupun cerpen. Menurut Trianto Triwikromo penyebab kesulitan dalam mengutarakan gagasan adalah kebanyakan bahan dan kekurangannya dan juga kurangnya inspirasi. Dalam menulis karya Triyanto Triwikromo telah menghabiskan waktu 30 tahun dalam menulis karya. Karya- karya yang dihasilkan oleh Triyanto Triwikromo adalah hasil serapan atau endapan hasil dari buku-buku karya sastra besar yang telah dibaca Triyanto Triwikromo dan hasil apa yang telah dibacanya dituangkan beliau menjadi karya sastra yang sangat luar biasa.