Mengarahkan Anak Kita Menjadi Cerdas
Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI
Berdasarkan
Koran Tribun Corner yang dimuat di halaman 2 pada hari Rabu,21 Desember 2016
tulisan dari Ahmad Ubaidillah yang berpendapat bahwa kalau manusia itu
cerdas,bisa dipastikan ia akan menjadi orang sukses dikemudian hari. Masa
depannya cerah. Memang benar adanya pada zaman sekarang manusia cerdas itu
dinilai dari tingkat pendidikannya dan keprofesionalannya. Manusia yang cerdas
hanya dikaitkan dengan manusia yang ahli pada bidang tertentu.
Saya
sependapat pada gagasan tersebut. Siapa sih yang tidak ingin menjadi anak yang
cerdas? Orang tua mana yang tidak menginginkan anak-anaknya cerdas? Pendidik mana yang tidak mengharapkan
anak didiknya menjadi cerdas? Tentu bangga menjadi anak yang cerdas, dan setiap
orang ingin menjadi cerdas. Orang tua yang mengajari kita dari kecil hingga
sekarang dan menyekolahkan kita pun karena hanya ingin anaknya menjadi cerdas.
Guru-guru disekolah membimbing dan memberikan ilmunya juga menginginkan anak
didiknya menjadi cerdas dan semua itu dilakukan agar kelak dimasa depan dapat
meraih kesuksesan.
Cerdas
itu memiliki banyak macam dan tergantung kriterianya. Ada orang yang cerdas
dalam bidang pendidkan,berpolitik,ekonomi dan lain sebagainya. Adapula orang
yang cerdas emosionalnya dan cerdas dalam menyelesaikan persoalan atau suatu
masalah tertentu. Misalnya dalam hal pendidikan ketika kenakalan remaja dapat
ditanggulangi oleh ahli pendidikan atau dalam hal pemerintahan ketika
pemerintah dapat menyelesaikan persoalan ekonomi pada suatu daerah seperti saat
kenaikan harga sembako. Contoh-contoh tersebut dapat pula disebut manusia
cerdas.
Sebenarnya
sejak zaman Nabi Muhammad SAW ternyata sudah banyak hadits yang menjelaskan
tentang kriteria orang yang cerdas menurut Rasulullah. Menurut Rasulullah SAW
yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, berkata bahwa “suatu ketika saya pernah
bersama Rasullulah,lalu datanglah seorang laki-laki dari kamu anshar. Dia
mengucapkan salam kepada Nabi SAW lalu bertanya, ” wahai Rasulullah, Muslim
manakah yang paling utama?” Rasulullah menjawab “Yaitu yang paling baik
akhlaknya”. Dia bertanya lagi, “ Lalu Muslim manakah yang paling cerdas?”
Rasulullah menjawab “ Yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak
persiapannya untuk kehidupan yang berikutnya ( setelah kematian). Mereka itulah
orang-orang yang cerdas”. (HR. Ibnu Majah).
Adapula
definisi cerdas menurut hadis yang lain. Hadis yang diriwayatkan oleh beberapa
perawi hadis. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad,
Imam Ath-Thabrani dan Imam Ibnu Majah. “ Dari Nabi SAW, beliau bersabda :
“orang yang cerdas adalah orang yang menghitung (menghisab)ndirinya dan beramal
untuk masa stelah mati. Orang yang lemah adalah orang yang jiwanya mengikuti hawa
nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT”, (HR. Imam At-Tirmidzi, Imam
Ahmad, Imam Ath-Thabrani dan Imam Ibnu Majah). Dari
penjelasan Rasullulah SAW ternyata adalah orang yang cerdas bukanlah orang yang
pandai dalam berhitung,berbahasa,menciptakan suatu hal atau ahli pada suatu
bidang. Namun, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling baik dalam
mempersiapkan kematian. Kecerdasan seseorang tidak hanya dapat terlihat dari
intelektualnya dibidang akademis saja namun juga dengan akhlak dan kepercayaan
yang baik kepada Tuhan. Oloeh karena itu alangkah baiknya apabila kita menjadi
orang yang cerdas dalam akademik dan rohani agar insyaallah menjadi orang yang
cerdas dalam dunia dan juga akhirat.