Minggu, 25 Desember 2016



TANGGAPAN DRAMA JAKA TARUB DAN BALADA SUMARAH
BERDASARKAN  ESSAI YANG DITULIS
 OLEH TIRANI WIDYA SAPITRY
                                                  
Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI
Jaka Tarub
Saya sependapat dengan artikel yang dituliskan oleh Tirani Widya Sapitry bahwa Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang pada zaman dahulu kala sangat mendambakan memiliki istri seperti seorang bidadari yang cantik jelita. Suatu hari disaat petang menjelang bulan purnama tiba ada tujuh bidadari yang turun dari kayangan menuju ke sebuah telaga yang terdapat ditengah hutan yang masih asri, saat itu Jaka Tarub sedang berburu burung yang bersenjatakan kayu. Melihat sekumpulan bidadari-bidadari yang sangat cantik tadi Jaka Tarub berniat untuk mengambil salah satu selendang yang para bidadari tinggalkan di batu besar. Setelah berhasil mencuri sebuah selendang, Jaka Tarub mengumpat dibalik semak. Tak lama kemudian bidadari-bidadari tadi memakai selendang mereka karena akan segera kembali ke khayangan. Ketika semuanya sudah mengenakan selendang masing-masing, ada seorang bidadari yang tak menemukan selendang miliknya. Bidadari tersebut bernama Nawang Wulan.  Nawang wulan tidak dapat kembali ke khayangan sehingga ia berada di telaga sendirian dengan hati yang sangat bersedih. Lalu Nawang Wulan pun mengucapkan janji bila selendang miliknya diketemukan oleh seorang perempuan maka akan dijadikannya saudara jika ditemukan oleh laki-laki maka akan dijadikannya suami. Mendengar hal itu Jaka Tarub pulang kerumah dan mengambilkan baju milik ibunya dan memberikan baju itu ke Nawang Wulan. Jka Tarub merasa tidak percaya karena dia telah dijadikan Nawang Wulan suami kemudian mereka pun pulang ke rumah Jaka Tarub. Tak seorangpun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya, Tak lama setelah mereka berumah tangga merekapun dikaruniani seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Suatu pagi Nawang Wulan berpamitan untuk pergi ke telaga untuk mandi, ia berpesan kepada suaminya untuk tidak membuka kukusan nasi yang dimasaknya. Jaka Tarub heran kenapa padi di lumbungnya tak kunjung habis. Ia lupa akan pesan istrinya dan dibukanya kukusan tadi. Ia sangat kaget karena istrinya hanya memasak seikat padi. Setibanya nawang wulan dirumah ia sangat marah dan terbongkarlah kebohongan Jaka Tarub, Nawang wulan juga telah menemukan selendannya lalu ia meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsi tanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu, dan Nawangsih dapat bertemu dengan Nawang Wulan ketika bulan purnama tiba dengan syarat menemui sendirian diluar rumah tanpa ditemani Jaka Tarub. Oleh sebab itu Jaka Tarub selalu berada dan tidur diluar rumah ketika bulan purnama tiba.

BALADA SUMARAH
Balada Sumarah menceritakan tentang kisah seseorang yang bernama Sumarah yang dikucilkan dilingkungan dimana ia tinggal karena bapaknya diduga adalah seorang PKI. Sampai pada akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi ke Arab untuk menjadi TKW agar ia tak lagi mendengar cemooh an tersebut. Ketika sekolah di bangku SMA Sumarah adalah lulusan dengan nilai terbaik. Namun sayang, nasib baik dalam pekerjaan tak berpihak kepadanya. Ia bekerja di Arab sebagai seorang babu yang bernasib buruk. Ia selalu disiksa oleh majikannya bahkan sampai tak digaji selama setahun hingga diperkosa oleh majikannya sendiri. Sampai pada akhirnya kesabarannya pun habis dan dia membunuh majikanya tersebut dan hukum arab pun terjadi kepadanya. Karena menurut hukum disana adalah nyawa dibalas dengan nyawa dan pemerintahan Indonesia pun tak membelanya. Lalu pada akhirnya dia pun dihukum mati oleh pemerintahan negara di Arab..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar