Minggu, 25 Desember 2016

Bedah Buku 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus 1 Pengarang



BEDAH BUKU TRIYANTO TRIWIKROMO
                                               
Oleh Tri Rahayu/15410232/3D/PBSI

Universitas PGRI Semarang mengadakan acara Bedah Buku 3 Buku 3 Pembaca 3 Kritikus 1 Pengarang pada tanggal Rabu 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Acaranya ini adalah acara tahunan yang diaadakan oleh pihak universitas dalam hal Bulan Bahasa. Bedah buku ini bertujuan untuk mengapresiasi perjalanan karya sastra oleh penulis yang bernama Triyanto Triwikromo dalam 30 tahun perjalanannya menjadi seorang penulis. Acara bedah buku yang diselenggarakan di Balairung Universitas PGRI Semarang  dibawakan oleh Dr. Harjito M.Hum dan ketiga buku karya Triyanto Triwikromo yang dibedah berjudul Bersepeda ke neraka, Takziah dan Selir Musim Panas. Ketiga buku tersebut akan dibedah oleh tiga pembaca dan tiga kritikus  antara lain Dr. Nur Hidayah, Bapak Seiyo dan Bapak Wiwid.
Triyanto Triwikromo adalah seorang sastrawan Indonesia yang lahir di Salatiga, Jawa tengah pada 15 September 1964 dan saat ini beliau telah berusia 52 tahun. Di Usia yang mencapai setengah abad lebih ini beliau telah banyak menghasilkan karya sastra yang luar biasa. Bedah buku dalam acara ini mengulas habis isi buku karangan Triyanto Triwikromo.
Dulu sebelum beliau menjadi seperti yang sekarang ini yaitu adalah seorang penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis  pada tahun 1989 dan juga sastrawan yang sangat luar biasa,beliau adalah seorang penulis biasa yang setiap hari dalam hidupnya ia habiskan dalam berkarya lewat goresan pena diatas kertas. Dulu sebelum karyanya di terbitkan oleh Harian Kompas setiap waktu subuh tiba beliau selalu datang kerumah pak Prass dengan membawa karya tulisnya dan membiarkan tulisannya tadi berserakan di ruang tamu karna beliau ingin pak prass membaca tulisannya dan dapat mengoreksinya serta berharap tulisannya dapat diterbitkan.
 Triyanto Triwikromo adalah sosok penulis yang tidak pantang menyerah. Dia selalu berusaha menghasilkan karya-karya terbaiknya.  Perjalanan karir Triyano Triwikromo dalam mengasah kemampuan menulisnya adalah dengan mengibaratkan dirinya sebagai seorang petinju yang harus berlatih setiap harinya. beliau dapat menghasilkan karya-karya seperti sekarang ini juga karena membaca. Dengan membaca maka suatu saat akan tergerak oleh apa yang pernah dibaca.
Bersepeda ke Neraka adalah fiksi mini Triyanto Triwikromo yang dibebaskan dan membebaskan,meluapkan,melampiaskan dirinya melipah secara tidak disangka-sangka,tak pernah rampung,sulit,rumit,sunyi,sepi,diam,bergerak,berkembang,mengungcup,berisik,tertangkap lalu lepas dan tak pernah rampung untuk terbedah.-ujar Dr. Nur Hidayah,pembaca dan kritikus.
Cerita fiksi mini pada buku yang berjudul Takziah terlihat seperti syair-syair mbeling yang dirindukan. Berisikan hal yang sangat menyenangkan seperti sedang berarung jeram didalamnya. –ujar Bapak Seiyo, pembaca dan kritikus.
Selir musim panas adalah buku yang berisikan tentang lirik-lirik yang perih yang menggambarkan intrik pada masa sebelumnya dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok teks-teks ini juga menunjukansisi lain Mao,Tiananmen,Puyi , kegairahan selir-selir mnghadapi hidup dan kemtian,serta pencarian jati diri kemanusiaan. Butuh empat buku tebal yang harus dibaca dalam membedah buku ini, itupun tak terbedah secara habis-habisan karena isinya yang dapat membingungkan si pembaca. – Ujar Bapak Wiwid,pembaca dan kritikus.
Menulis adalah pekerjaan besar yang sangat dicintai beliau dan dengan menulis hasil karya beliau akan menjadi suatu nilai, entah menulis dalam hal apapun seperti menulis berita ataupun cerpen. Menurut Trianto Triwikromo penyebab kesulitan dalam mengutarakan gagasan adalah kebanyakan bahan dan kekurangannya dan juga kurangnya inspirasi. Dalam menulis karya Triyanto Triwikromo telah menghabiskan waktu 30 tahun dalam menulis karya. Karya- karya yang dihasilkan oleh Triyanto Triwikromo adalah hasil serapan atau endapan hasil dari buku-buku karya sastra besar yang telah dibaca Triyanto Triwikromo dan hasil apa yang telah dibacanya dituangkan beliau menjadi karya sastra yang sangat luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar