Suparto
Brata
Manusia
Sastrawi
Oleh: Tri Rahayu/3D/15410232
Berdasarkan koran
Tribun Corner yang dimuat di halaman 2 pada hari Sabtu, 4 Juni 2016 tulisan
dari Ngadiyo yang berpendapat tentang takdir manusia yang tak dapat diubah
adalah anggapan picisan. Manusia yang beranggapan demikian adalah cerminan dari
manusia primitif yang tidak terpelajar. Manusia dan pengetahuan adalah sebuah
kunci dari perubahan hidup seseorang. Sejauh ini masih kita temui tentang
kurang begitu sadarnya manusia akan pentingnya dalam menimba ilmu pengetahuan
padahal peradaban menunjukan kependidikan.
Menurut pengalaman saya
dalam menempuh pendidikan sejak dari Taman kanak-kanak bangku Sekolah Dasar,
SMP, SMA hingga menduduki semester 3 di perguruan tinggi sejak awal saya
memperoleh pembelajaran di TK saya
mendapatkan pembelajaran pertama saya dengan mengenal apa itu huruf, belajar
dalam mengucapkannya,kemudian menuliskan hingga menyusunnya menjadi sebuah kata
sesuai dengan jenjang pendidikannya. Saya diajar oleh guru untuk membaca dan
menulis setiap hari, tak hanya itu pelajaran yang lain seperti
berhitung,pengetahuan alam,sosial dan sebagainya juga diajarkan oleh guru disekolah.
Namun itu saja belum cukup bila saya menerapkan hal membaca dan menulis hanya
dilingkungan sekolah.
Dalam era globalisasi
masa kini saya cukup perihatin melihat generasi muda jaman sekarang lebih suka
menulis status di sosial media dan membaca postingan tidak penting. Tak salah jika kita memanfaatkan teknologi yang
telah ada. Namun jangan sampai kita melupakan dengan adanya buku. Kurang
sadarnya akan pentingnya membaca bacaan dalam buku membuat negara Indonesia
ketinggalan jauh dalam hal intelektual dengan negara-negara lain. Sangat
memperihatinkan bukan? Kita sebagai masyarakat yang melek huruf dan mengaku
sebagai kaum intelektual sangat malu jika mengetahui hal tersebut. Dalam hal
ini kurikulum belum berjalan dengan baik, sistem pendidikan di Indonsia belum
dapat menggetarkan hati anak didiknya untuk dapat mencintai buku.
Saya sebagai calon
pendidik ingin mengubah pola berfikir siswa untuk lebih aktif dalam membaca
buku. Hal ini suatu saat akan saya lakukan dan saya tanamkan kepada peserta didik
saya dengan cara “10 menit segudang ilmu”. Maksud dari kata itu adalah dengan
siswa membaca tulisan dalam waktu 10 menit entah itu buku cerita atau buku
lainnya setidaknya siswa bisa terlatih dan dapat menyerap informasi dari apa
yang dibacanya. Dampak membaca tulisan dapat dirasakan secara langsung. Dengan membaca,apa
yang dibaca oleh si pembaca dapat
mengubah pola berfikir. Lewat tulisan manusia menjadi pemikir yang
baik,berwawasan luas, berilmu dan hal ini dapat menjadikan manusia untuk hidup
lebih baik lagi. Manusia tidak boleh hanya mengandalkan panca indra namun juga
harus berilmu karna dengan berilmu kita semua dapat merubah nasib agar tidak
tertindas, dan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar