Minggu, 25 Desember 2016



Suparto Brata
Manusia Sastrawi
                                            Oleh: Tri Rahayu/3D/15410232

Berdasarkan koran Tribun Corner yang dimuat di halaman 2 pada hari Sabtu, 4 Juni 2016 tulisan dari Ngadiyo yang berpendapat tentang takdir manusia yang tak dapat diubah adalah anggapan picisan. Manusia yang beranggapan demikian adalah cerminan dari manusia primitif yang tidak terpelajar. Manusia dan pengetahuan adalah sebuah kunci dari perubahan hidup seseorang. Sejauh ini masih kita temui tentang kurang begitu sadarnya manusia akan pentingnya dalam menimba ilmu pengetahuan padahal peradaban menunjukan kependidikan.
Menurut pengalaman saya dalam menempuh pendidikan sejak dari Taman kanak-kanak bangku Sekolah Dasar, SMP, SMA hingga menduduki semester 3 di perguruan tinggi sejak awal saya memperoleh pembelajaran  di TK saya mendapatkan pembelajaran pertama saya dengan mengenal apa itu huruf, belajar dalam mengucapkannya,kemudian menuliskan hingga menyusunnya menjadi sebuah kata sesuai dengan jenjang pendidikannya. Saya diajar oleh guru untuk membaca dan menulis setiap hari, tak hanya itu pelajaran yang lain seperti berhitung,pengetahuan alam,sosial dan sebagainya juga diajarkan oleh guru disekolah. Namun itu saja belum cukup bila saya menerapkan hal membaca dan menulis hanya dilingkungan sekolah.
Dalam era globalisasi masa kini saya cukup perihatin melihat generasi muda jaman sekarang lebih suka menulis status di sosial media dan membaca postingan tidak penting. Tak  salah jika kita memanfaatkan teknologi yang telah ada. Namun jangan sampai kita melupakan dengan adanya buku. Kurang sadarnya akan pentingnya membaca bacaan dalam buku membuat negara Indonesia ketinggalan jauh dalam hal intelektual dengan negara-negara lain. Sangat memperihatinkan bukan? Kita sebagai masyarakat yang melek huruf dan mengaku sebagai kaum intelektual sangat malu jika mengetahui hal tersebut. Dalam hal ini kurikulum belum berjalan dengan baik, sistem pendidikan di Indonsia belum dapat menggetarkan hati anak didiknya untuk dapat mencintai buku.
Saya sebagai calon pendidik ingin mengubah pola berfikir siswa untuk lebih aktif dalam membaca buku. Hal ini suatu saat akan saya lakukan dan saya tanamkan kepada peserta didik saya dengan cara “10 menit segudang ilmu”. Maksud dari kata itu adalah dengan siswa membaca tulisan dalam waktu 10 menit entah itu buku cerita atau buku lainnya setidaknya siswa bisa terlatih dan dapat menyerap informasi dari apa yang dibacanya. Dampak membaca tulisan dapat dirasakan secara langsung. Dengan membaca,apa yang dibaca oleh si pembaca  dapat mengubah pola berfikir. Lewat tulisan manusia menjadi pemikir yang baik,berwawasan luas, berilmu dan hal ini dapat menjadikan manusia untuk hidup lebih baik lagi. Manusia tidak boleh hanya mengandalkan panca indra namun juga harus berilmu karna dengan berilmu kita semua dapat merubah nasib agar tidak tertindas, dan menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar